Rabu, 17 Agustus 2016

KISAH DARI TUMPUKAN SAMPAH BOTOL PLASTIK DI PULAU BALI



Siapa yang tidak mengenal Bali ? Cerita tentang keindahan alam, budaya yang eksotis, sampai pantainya yang menawan boleh dibilang sudah sering terdengar. Tetapi, tahukah anda kalau kehadiran para wisatawan di Bali juga mendatangkan sisi lain yang justru menyedihkan. Ternyata, aktivitas masyarakat itu menghasilkan timbunan sampah di Bali yang jumlahnya terus meningkat, terutama untuk jenis sampah plastik atau PET. PET atau polyethylene terephthalate adalah istilah yang digunakan untuk menyebutkan unsur plastik pada pembuatan sejumlah produk di antaranya botol kemasan.

Jika kita perhatikan, saat ini banyak produk minuman yang menggunakan botol kemasan plastik, maka bisa dibayangkan berapa banyak sampah yang akan dihasilkan dari botol-botol kemasan yang sudah habis digunakan oleh berjuta-juta orang itu. Bayangkan pula bila botol-botol kemasan tersebut menjadi tumpukan sampah yang bergunung-gunung bila didiamkan saja selama bertahun-tahun.


Rupanya, ada kisah menarik dari berjuta-juta botol kemasan plastik bekas itu. Berawal dari inisiasi Aqua, perusahaan air minum dalam kemasan pertama di Indonesia, berdirilah RBU (Recycling Business Unit) yang merupakan tempat pendaur ulang sampah plastik. Dengan menggandeng Namasindo Plass dan Bali Pet, Aqua Grup mengelola sampah kemasan plastik PET. Langkah pertama adalah dengan melibatkan para pemulung untuk mengumpulkan sampah botol kemasan plastik, lalu menyerahkannya ke pengepul atau pihak yang menerima tampungan sampah botol kemasan dari pemulung. Para pemulung itu tentu saja akan mendapatkan upah atas aksinya mengumpulkan sampah botol kemasan.

Dari pengepul-pengepul itu, lalu berdatanganlah mobil-mobil yang akan mengangkut sampah botol kemasan plastik untuk dibawa ke RBU. Satu mobil setidaknya bisa mengangkut sekitar 250 kilogram sampah botol kemasan plastik. Dalam sehari, bisa datang belasan mobil yang mengangkat sampah-sampah itu. Di RBU, yang terletak di Desa Lepang, Klungkung, Bali itu, botol-botol itu lantas ditimbang dan dipilah. Bila tidak terpakai akan dikembalikan ke pengepul. Sementara botol-botol kemasan plastik yang telah terpilih kemudian dibersihkan agar terhindar dari racun sebelum diproses lebih lanjut. Pada proses itu sama sekali tidak digunakan detergen. Jadi hanya murni disemprot saja sampai bersih. Selanjutnya, botol-botol itu masuk ke mesin penggilingan dan dicacah hingga menjadi cacahan plastik (flakes).


Saat ini di Bali sudah terdapat dua RBU. Selain di Lepang, ada pula RBU serupa di Tohpati, Denpasar. Kedua RBU itu mampu memproduksi sekitar 6000 ton per tahun dalam bentuk cacahan plastik, dengan melibatkan 80 orang pekerja yang terdiri atas pemulung, masyarakat sekitar, dan kaum pendatang. Setelah dalam bentuk cacahan plastik, barulah dikirim ke pabrik di Bandung. Dari cacahan plastik itu, berbagai produk bisa dihasilkan, seperti benang polyester untuk bahan baku kaus, bisa juga menjadi bahan sapu, tempat sampah, hingga bantal dakron. Mengingat konsumsi untuk PET yang sangat luar biasa, tentu saja ini menjadi komoditas primadona. Semua cacahan plastik itu langsung terserap. Jadi, sebenarnya dari sampah botol-botol kemasan plastik itu ada keuntungan ekonomis di baliknya. Maka dari itu, tugas kita adalah tetap menjaga lingkungan agar tetap asri dengan tetap membuang sampah pada tempatnya. Bila perilaku ini dipertahankan, dijamin kita pun akan lebih seru saat menikmati pantai-pantai indah di Bali.

CERTA DARI SUNGAI AYUNG – BALI


Wisata Bali biasanya berhubungan erat dengan air. Ada wisata pantai hingga arung jeram. Tetapi, bila kita menyempatkan diri berjalan-jalan ke daerah pegunungan Bali, mungkin tidak banyak yang tahu bahwa masyarakat Bali sempat mengalami kesulitan dalam mengakses air bersih. Fokus utama untuk masalah perairan di Bali terpusat pada daerah aliran Sungai Ayung yang boleh dianggap sebagai urat nadi aliran air di Bali. Berdasarkan penggunaan airnya, aliran air Sungai Ayung dimanfaatkan untuk berbagai sektor kepentingan, seperti kebutuhan irigasi, air baku PDAM, hingga aliran permukaannya yang dimanfaatkan sebagai usaha jasa rekreasi wisata arung jeram.

Aliran air sungai yang berkelok-kelok dan pemandangan Sungai Ayung yang indah membuat banyak orang berkepentingan di wilayah ini, terutama yang berkaitan dengan pariwisata. Tidak hanya usaha arung jeram yang berkembang pesat, tetapi usaha perhotelan pun juga mengalami perkembangan yang sama. Banyak hotel yang memanfaatkan pemandangan indah Sungai Ayung secara gratis alias tidak membayar untuk pelestarian sungai ini. Padahal di sepanjang daerah aliran sungai bertebaran setidaknya 19 hotel dan restoran, serta sekitar 10 usaha arung jeram yang memanfaatkan aliran Sungai Ayung sebagai wilayah wisata. Itu belum termasuk yang ilegal. Pertanyaan yang lantas muncul, siapakah yang akan bertugas memelihara kelestarian air di sana ?


Salah satu pihak yang terlibat dalam pelestarian Sungai Ayung itu ternyata berasal dari masyarakat, yang diawali dari inisiatif Aqua, perusahaan air minum dalam kemasan, yang memang peduli pada pelestarian air, hingga lahirlah Pokja Ayung Lestari. Secara bersama, mereka berusaha keras untuk melestarikan air. Upaya yang dilakukan antara lain dengan menanam lebih dari 100 ribu pohon sejak 2012, membuat 15 sumur resapan, dan lebih dari 1.750 lubang biopori. Ada pula 13 instalasi biogas yang dibangun di Desa Pelaga dan Desa Belok Sidan, Kabupaten Gianyar.

Hal yang tidak kalah menarik adalah kehadiran hidram yang merupakan pompa air yang bekerja menggunakan entakan hidrolik air. Dengan adanya hidram ini, masyarakat dusun pun bisa mendapatkan air bersih dengan mudah. Sebelum ada hidram, masyarakat butuh berjalan hingga 1,5 jam untuk memperoleh air bersih, dan hasilnya pun hanya cukup untuk minum. Apalagi dulu juga banyak warga dusun yang belum memiliki jamban sendiri, sehingga warga pun buang air sembarangan. Dan cerita itu mulai berubah ketika berbagai pihak terus berusaha untuk menjaga kelestarian air, terutama melindungi dari kemungkinan pencemaran. Salah satunya adalah dengan membangun sarana air bersih dan pengembangan sanitasi total. Dengan begitu, tidak ada lagi warga yang buang air sembarangan. Bila itu semua dilakukan, perlahan tapi pasti, kualitas dan kuantitas Sungai Ayung pun bakal membaik. Misalnya, debit air terus meningkat. Hasilnya, bisa ditebak, pemandangan Sungai Ayung makin indah, berarung jeram pun makin asyik, dan aliran airnya bisa terus sampai jauh.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar