Birdwatching
atau birdwalk adalah kegiatan
pengamatan burung di alam bebas yang bisa dilakukan di mana saja. Tak melulu
harus blusukan ke hutan rimba, ragam spesies burung yang menarik pun juga bisa
dijmpai di sejumlah taman Jakarta dan sekitarnya, seperti Monas, Ragunan, Taman
Menteng, Taman Suropati, Muara Angke, Hutan Kota Srengseng, Taman Dadap Merah,
dan di beberapa tempat lain. Untuk melakukan pengamatan burung ini, ada
sejumlah hal yang perlu diperhatikan. Etikanya, para pengamat burung harus
tetap tenang dan membiarkan habitat alami burung sebagaimana mestinya.
Terkait
peralatan, setiap tim sebaiknya ‘dipersenjatai’ dengan kamera, teropong binocular, dan buku panduan mengenai
spesies burung. Alat tulis dan tabel pengamatan juga penting untuk mencatat
jenis, jumlah, dan aktivitas burung yang dijumpai. Akan lebih baik lagi jika
ada orang yang cukup ahli mengidentifikasi burung pada setiap kelompok. Dengan
demikian, anggota yang masih awam dapat saling belajar mengenali kicau atau
membedakan anatomi dan corak burung.
Mutia Afianti,
ketua Biological Bird Club (BBC) UNAS juga menyampaikan, untuk tidak terpaku
pada peralatan canggih. Saat mendalami hobi mengamati burung sejak 2014, ia
memulainya juga tanpa sarana apapun. Berangakat dari keingintahuan, Mutia mulai
‘menyicil’ dengan teropong dan buku panduan spesies burung. Lambat laun,
setelah melakukan belasan kali pengamatan bersama rekan-rekannya, ia mulai bisa
mengidentifikasi burung hanya dengan mendengar kicau dan melihat bentuknya.
Penyuka fotografi yang juga aktif di Lutung Forum Studi Primata ini menjelaskan,
bahwa kehadiran burung bisa sebagai indikator lingkungan. Bila masih banyak
spesies burung dalam sebuah lingkungan, maka bisa dibilang kualitas lingkungan
tersebut masih bagus.
Indriyani Anjari, seorang birdwatcher lain, mengemukakan bahwa ia sangat terkesan pada beragam spesies burung yang bisa ditemukan dalam pengamatan burung. Meski masih tergolong baru dalam menggeluti hobi ini, Indri cukup aktif melakukan pengamatan, baik bersama-sama maupun seorang diri. Anggota Kelompok Pengamat Burung Nycticorax ini memiliki pengalaman berkesan saat bertandang ke Taman Hutan Raya Banten. Pada saat kali pertama ia melakukan pengamatan burung bersama di awal tahun 2016 itu, ia bisa melihat langsung sepasang tepekong jambul alias Hemiprocne longipennis yang sedang kawin atau mating.
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Negeri Jakarta ini lantas terpanggil untuk melanjutkan hobinya itu hingga kini. Setiap kali menjumpai spesies burung tertentu di alam bebas, Indri segera memotretnya, kemudian mencari data mengenai burung tersebut pada buku panduan atau internet. Baginya, seru sekali rasanya bisa mengetahui banyak burung yang awalnya tidak ia ketahui, dan bisa membedakan mana burung jantan dan burung betina. Indri berharap, kelak bisa melakukan pengamatan burung di Pulau Rambut, Kepulauan Seribu. Karena ia mendengar, di sana terdapat banyak spesies burung yang menarik, termasuk kowak malam kelabu alias Nycticorax nycticorax, yang kebetulan menjadi nama kelompok pengamatan burung tempat ia bergabung.
Tidak hanya
menjadikannya sekedar hobi, mengamati burung pun juga bisa berkembang menjadi
profesi yang menjanjikan. Jihad, bird
conservation officer di organisasi konservasi nasional Burung Indonesia,
sudah membuktikan hal itu. Hobi birdwatching
sudah dilakoni Jihad sejak 2003 tatkala ia masih menjadi mahasiswa semester dua
di Universitas Negeri Jakarta. Lulusan Jurusan Biologi FMIPA UNJ itu tertarik
mendalami hobi itu setelah beberapa kali diajak kawannya melakukan pengamatan
burung.
Menurut Jihad,
hobi mengamati burung cukup menghanyutkan. Saking menikmatinya, ia kadang tidak
merasa lelah saat harus naik turun gunung hingga 10 kilometer demi mengamati
aktivitas vertebrata berdarah panas dan berbulu itu. Jihad menginformasikan,
terdapat banyak profesi menjanjikan yang bermula dari hobi pengamatan burung.
Beberapa di antaranya ialah surveyor,
ecologist, hingga wiraswasta sebagai
pemandu wisata pengamatan burung. Prospek ini mungkin belum banyak diketahui, karena
rata-rata yang menggeluti profesi yang ada kaitannya dengan burung mulanya dari
hobi, tidak selalu yang berlatar belakang pendidikan biologi.
Bagaimana pun, Jihad yang sudah mengamati burung hingga Kalimantan, Sumatra, Lombok, Sulawesi, dan Maluku ini turut senang mendapati hobi birdwatching semakin berkembang. Jika dahulu pegiatnya mayoritas dari kalangan pelajar dan mahasiswa, kini para orangtua pun sudah banyak yang mengenalkan hobi ini kepada anak-anaknya. Pria kelahiran Jakarta, 19 Oktober 1984 ini meyakini bahwa penyadartahuan cinta lingkungan sebaiknya dilakukan sejak usia dini. Termasuk, ajakan untuk mencintai spesies burung dan hewan lain. Berdasarkan data yang dihimpun Burung Indonesia pada 2015, menunjukkan, 137 dari 1.672 spesies burung di Indonesia dikategorikan terancam punah. Ayah satu anak ini pun menegaskan, ratusan spesies itu bakal betul-betul punah jika aksi pelestarian tak segera dilakukan. Jihad bersama teman-temannya di Burung Indonesia pun, sering menyampaikan kepada siswa-siswa sekolah untuk mencintai dan mengenali burung, bahwa burung itu lebih indah jika berada di alam, bukan di dalam sangkar.
Bagaimana pun, Jihad yang sudah mengamati burung hingga Kalimantan, Sumatra, Lombok, Sulawesi, dan Maluku ini turut senang mendapati hobi birdwatching semakin berkembang. Jika dahulu pegiatnya mayoritas dari kalangan pelajar dan mahasiswa, kini para orangtua pun sudah banyak yang mengenalkan hobi ini kepada anak-anaknya. Pria kelahiran Jakarta, 19 Oktober 1984 ini meyakini bahwa penyadartahuan cinta lingkungan sebaiknya dilakukan sejak usia dini. Termasuk, ajakan untuk mencintai spesies burung dan hewan lain. Berdasarkan data yang dihimpun Burung Indonesia pada 2015, menunjukkan, 137 dari 1.672 spesies burung di Indonesia dikategorikan terancam punah. Ayah satu anak ini pun menegaskan, ratusan spesies itu bakal betul-betul punah jika aksi pelestarian tak segera dilakukan. Jihad bersama teman-temannya di Burung Indonesia pun, sering menyampaikan kepada siswa-siswa sekolah untuk mencintai dan mengenali burung, bahwa burung itu lebih indah jika berada di alam, bukan di dalam sangkar.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar