Semarak UEFA
Euro 2016 di Prancis ternyata membawa berkah tersendiri bagi Gilang Bogy,
mahasiswa jurusan manajemen Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta.
Menyambut ajang kompetisi sepak bola empat tahunan ini, Gilang didaulat menjadi
desainer kaleng Coca Cola bergambar khusus 24 pemain timnas Jerman yang berlaga
di UEFA Euro 2016. Pria kelahiran Solo ini mendapat tawaran dari Coca Cola
Jerman melalui surat elektronik. Awalnya, Coca Cola melihat gambar Wedha’s Pop
Art Potrait (WPAP) Robin van Persie di akun Instagram-nya
dan portofolio daring. Dari situlah Coca Cola menawarkan kerja sama, dengan konsep
tetap diberikan oleh pihak Coca Cola. Gilang yang mulai menggeluti dunia desain
WPAP sejak 2013 ini mengaku tidak menyangka akan dipilih oleh Coca Cola Jerman
untuk mendesain gambar kalengnya. Dan ia makin bangga, manakala pihak Coca Cola
setuju dengan gambar yang ia buat.
Menurut
Gilang, ia menaruh hati pada teknik WPAP karena teknik ini adalah teknik yang
unik dan menantang. Ini merupakan kali pertama Gilang mendapat tawaran kerja
sama dari sebuah perusahaan besar. Sebelumnya, ia hanya kerap mengerjakan
pesanan perorangan. Pernah beberapa kali ia mendapatkan penawaran dari company luar negeri untuk desain WPAP,
tapi selalu gagal. Dari sinilah, Gilang mulai merasa bahwa pekerjaan ini harus
lebih diseriusi, bukan dianggap main-main lagi.
Karya Gilang
dipilih untuk kaleng Coca Cola edisi terbatas UEFA Euro 2016 yang hanya beredar
di Jerman. Desain WPAP yang dibuatnya dalam waktu satu bulan itu dinilai
memiliki karakter garis yang kuat dan dinamis yang mewakili semangat timnas
Jerman. Bahkan, tim Coca Cola Indonesia sendiri mengalami kesulitan untuk
menemukan kaleng edisi Coca Cola khusus tersebut. Padahal, setelah memberikan
desain 24 pemain timnas Jerman asuhan pelatih Joachim Loew ke Coca Cola Jerman,
Gilang mengaku belum melihat bagaimana hasil desainnya diterapkan di dalam
media kaleng. Namun yang jelas, konsep awal yang ia buat adalah berwarna,
sementara setelah dibuat oleh Coca Cola Jerman, menjadi hitam putih dan merah
putih.
Setelah
karyanya terbang ke Jerman, tak lama Gilang juga mendapat tawaran kerja sama
dari situs olahraga berbasis di Prancis untuk membuat desain dengan teknik
serupa. Meski demikian, Gilang juga bertekad, suatu saat kelak bisa menyumbang
karya untuk cabang olahraga Indonesia.
TENTANG WEDHAS’S
POP ART POTRAIT
Wedha’s Pop
Art Potrait (WPAP) atau Foto Marak Bercorak (FMB) bukan lagi teknik desain yang
asing untuk desainer-desainer lokal Indonesia. Teknik ini telah dipopulerkan
sejak 2008 lalu oleh seniman grafis Indonesia, Wedha Abdul Rasyid. Awalnya, di
usia 40 tahun, Wedha mengalami penurunan fungsi mata sehingga sulit menggambar
wajah dengan detail. Ia lalu memutuskan untuk membuat gambar wajah yang
sederhana dan penuh warna dengan gaya kubisme. Karena dulu belum ada komputer,
pria kelahiran Pekalongan, 10 Maret 1951 ini melakukannya dengan cara
menggambar di kertas jiplak yang telah disimpan di atas foto dan gambarnya
dipindahkan ke kertas gambar untuk diwarnai.
Setelah
mendalami teknik tersebut dalam waktu yang cukup lama, dari teman-teman
senimannya Wedha mengetahui jika teknik itu masuk dalam genre pop art, sehingga ia menamainya dengan
Wedha’s Pop Art Potrait. Wedha sangat ingin melestarikan WPAP sebagai teknik
desain asli buatan anak Indonesia. Ia lalu mulai menyebar karyanya dengan
mengunggahnya di situs DevianArt.
Desainer-desainer grafis muda yang mulai meniru WPAP dirangkulnya untuk
kemudian diajak membuat komunitas WPAP. Saat ini, di setiap kota sudah ada WPAP
Community, dan bahkan sudah pernah menggelar pameran besar di Grand Indonesia,
Jakarta pada 2010 lalu.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar