Senin, 05 Desember 2016

TIPS BEBAS STRES DARI BRETT PHILLIPS.


Kamu pernah merasakan stres? Banyak pekerjaan menumpuk, tugas yang tidak kunjung berakhir, tuntutan dari sana-sini. Makin dipikirkan, sepertinya masalah yang muncul tidak juga berhenti. Tidak hanya orang dewasa yang bisa merasakan sendiri, pelajar pun saat ini juga gampang sekali mengalami stres. Salah satunya, seperti yang sempat dialami oleh anak SMA Rio Mesa di Oxnard, California, Amerika Serikat, bernama Alina Ramirez. Karena itulah dia kegirangan ketika seorang guru psikologi yang bernama Brett Phillips membagikan 101 tips untuk mengatasi stres. Saking senangnya, Ramirez yang juga murid Phillips ini kemudian mengunggah 101 tips tersebut di akun Twitter-nya, yang kemudian menjadi viral di dunia maya.

Kini unggahan mengenai tips dari guru psikologi tersebut telah membuahkan puluhan ribu "like" dan retweet. Beberapa tipsnya meliputi perilaku-perilaku praktis yang ternyata cukup mudah dilakukan, seperti bangun 15 menit lebih awal dan mempersiapkan seluruh kebutuhan di pagi hari pada malam sebelumnya. Namun, ada beberapa tips lain yang cukup menggelitik, misalnya Phillips menyarankan pada muridnya untuk menghindari pakaian ketat, atau tak mengandalkan ingatan pada kemampuan daya ingat otak saja, namun juga menuliskannya. Hal lain yang lebih lucu adalah Phillips menyarankan muridnya membuat duplikat kunci atau mengganti pengharum udara di mobil. Tips lain termasuk meminta untuk memperbaiki apapun yang tak berfungsi dengan baik, membuat salinan surat-surat penting, dan memecah tugas besar menjadi lebih kecil agar mudah dikerjakan.

Saran lain dalam daftar tips yang ditulis Phillips, juga memuat hal-hal mengenai peningkatan perasaan positif. Ini termasuk, di antaranya melihat bintang, belajar siulan sebuah lagu, membaca puisi, membaca cerita sambil meringkuk di tempat tidur, hingga membeli bunga untuk diri sendiri. Ramirez mengatakan, tips dari gurunya ini sangat berguna. Sebab, ia sangat tahu bagaimana stresnya menghadapi sekolah, pekerjaan, dan kehidupan pada umumnya. Inti dari tips dalam kertas yang dibagikan Phillips itu berisi daftar untuk mengingatkan siswa, bagaimana menghargai diri mereka sendiri. Pada salah satu tips, Phillips bahkan meminta muridnya menghirup wangi bunga untuk dirinya sendiri. Dalam tips lainnya, Phillips juga menyarankan para murid untuk tak segan memuji orang lain. Dan di akhir tipsnya, ia meminta semua murid untuk bisa meluangkan waktu beristirahat dan relaks.

Sebenarnya, tips ini bukan baru kali ini diberikan Phillips ke muridnya. Bahkan, dia sebenarnya sudah selama 10 tahun menyerahkan daftar tersebut ke kelas yang diajarnya. Namun, ini adalah pertama kalinya, ada siswanya yang menaruhnya di media sosial dan responsnya cukup mengejutkan. Phillips mengatakan, ia menyusun daftar itu selama bertahun-tahun dengan berbagai referensi mulai dari buku, artikel, hingga hal-hal yang kebanyakan orang lakukan untuk mengurangi stres. Guru ini mengaku menggunakan daftar tersebut di kelas Stress Plan Project yang diajarnya. Biasanya kertas tips dibagikan di awal semester.

Berkat sang murid, Phillips kini dipuja bak pahlawan. Malah, tak hanya dirinya yang banjir pujian, muridnya Ramirez juga menuai beragam respons positif di Twitter. Para netizen berterima kasih padanya karena telah berbagi daftar tersebut. Salah satu pengguna dengan nama @CalliesCoffee mengatakan, ini merupakan hal luar biasa dan daftar tips tersebut sangat diperlukan. Beberapa netizen lain turut berkomentar, "Tak semua pahlawan memakai jubah". yang merujuk pada Phillips. "Terima kasih, saya benar-benar membutuhkan ini," kata akun Sam Layendecker.

Jumat, 02 Desember 2016

DELLIE THREESYADINDA : Mengukir Prestasi Melalui Panahan.


Dellie Threesyadinda masih berusia tujuh tahun ketika mulai mengenal panah dan busurnya. Hanya berselang enam bulan setelah latihan intensif memanah, ia menjajal kemampuannya dalam ajang prajunior di Bojonegoro, Jawa Timur. Hasilnya, tidak tanggung-tanggung, medali emas berhasil diboyong pulang. Olahraga panahan memang bukan hal baru untuk Dinda. Dia memang terlahir di tengah keluarga pemanah. Ibunya, Lilies Handayani, adalah atlet panahan peraih medali perak dalam Olimpiade Seoul 1988 lalu. Begitupun dengan sang ayah, Denny Trisyanto, yang juga berkecimpung di dunia memanah.

Setelah resmi menjadi atlet panahan nasional, Dinda mengikuti banyak kejuaraan dan meraih banyak medali. Salah satunya medali perunggu di nomor beregu yang ia dapatkan di ajang Archery World Cup 2016 di Ankara, Turki, Agustus 2016. Kegigihannya bahkan telah mengantarkan ia ke posisi 54 atlet panahan dunia di usianya yang cukup muda. Meskipun banyak menorehkan prestasi dalam kejuaraan panahan, Dinda mengaku keinginan  utamanya adalah bisa membawa pulang emas dari ajang internasional. Menurutnya, medali emas bukan hal yang mustahil ia dapatkan selama masih memiliki tekad untuk berlatih dan bertanding.

Tidak hanya emas, gadis kelahiran 12 Mei 1990 ini juga bertekad kuat untuk memperkenalkan panahan lebih luas kepada masyarakat. Untuk mewujudkan impiannya itu, ia turut berkecimpung membesarkan sekolah panahan yang didirikan keluarganya di Surabaya bernama Srikandi Archery School. Sekolah panahan ini selalu memfasilitasi pertandingan antar klub memanah. Meski demikian, Dinda mengaku belum terjun sebagai pelatih karena masih berstatus sebagai atlet. Ia lebih sering berlatih bersama para siswa panahan dan mengadakan sesi berbagi cerita serta pengalaman.


Dalam memperkenalkan olahraga panahan, Dinda banyak memiliki program khusus. Salah satunya adalah program memanah bagi anak-anak yatim piatu. Kepada anak-anak tersebut, Dinda sangat ingin berbagi asyiknya terjun di olahraga panahan. Menurutnya, bertanding panahan bukan untuk melawan orang lain melainkan untuk menaklukkan diri sendiri. 

Seorang atlet panahan, kata Dinda, harus bisa menguasai dan mempercayai kemampuan diri sendiri. Untuk bisa meraih hal itu, seorang atlet harus terus berlatih. Bukan hanya berlatih teknik, tetapi juga fisik, sebab busur panah yang digunakan memiliki bobot yang tidak ringan. Selain berlatih keras, atlet panahan juga perlu mengikuti pertandingan. Dalam latihan, seorang atlet mungkin bisa menguasai latihan teknik, fisik, hingga kedisiplinan. Namun, hanya dalam pertandingan, mental seorang atlet bisa benar-benar diasah.

Dengan segala tekanan yang ada, panahan tetap membuat Dinda jatuh hati. Menurutnya, semua orang bisa menyenangi olahraga panahan karena akan timbul rasa penasaran dalam membidik sasaran. Ada perasaan yang sulit diungkapkan ketika anak panah yang dilepaskan dari busur bisa tepat mengenai sasaran. Beberapa orang yang Dinda kenal mengaku selalu ingin memanah setelah satu kali mencoba panahan.

BERSAING DENGAN IBU SENDIRI

Meraih emas di ajang internasional masih menjadi obsesi tersendiri bagi Dinda. Uniknya, medali emas pernah hampir ia dapatkan di ajang Asian Grand Prix 2007 Iran. Kejuaraan tersebut menjadi salah satu kejuaraan yang paling mengesankan, karena Dinda harus bersaing dengan ibunya sendiri di babak final. Saat itu, pasangan ibu dan anak tersebut terpaksa harus memperebutkan medali emas karena atlet dari negara lain sudah terlebih dahulu gugur. Namun, Dinda harus mengakui keunggulan sang ibu dan mengalah dengan membawa pulang medali perak.


Tak hanya sebagai pelatih sekaligus lawan, bagi Dinda, ibunya adalah sosok yang sangat memberikan inspirasi. Sebagai orang pertama yang memperkenalkan Dinda dengan olahraga panahan, sang ibu diakuinya selalu memberikan semangat kepadanya untuk bisa menggali potensi dan memberikan yang terbaik, yang bisa ia lakukan. Ibunya jugalah yang mendorong Dinda untuk memperkenalkan olahraga panahan kepada generasi muda, khususnya para perempuan. Menurutnya, perempuan harus bisa keluar dari zona nyaman dengan berani mencoba hal baru.