Sang kucing
raksasa itu memang menawan. Coba saja perhatikan penampakan fisiknya. Berwarna
paling gelap di antara supspesiesnya yang lain, pola alur hitam yang menghiasi
sekujur tubuhnya dan bentuk fisik yang tergolong besar hingga mencapai 250
sentimeter dari kepala hingga kaki. Segala keistimewaan itu adalah milik
harimau Sumatera. Supspesies harimau bernama Latin Pathera tigris sumatrae ini termasuk satwa endemik yang artinya
hanya ada di Indonesia, khususnya Pulau Sumatera.
Indonesia
patut bangga karena hanya kita yang memiliki harimau Sumatera. Mereka kemudian
dibiakkan atau dipelihara di sejumlah kebun binatang seluruh dunia. Sayangnya,
sekarang status kucing besar ini masuk dalam kategori kritis atau terancam
punah. Malah, hanya tersisa sekitar 371 ekor di Pulau Sumatera dan total
populasi globalnya hanya sebanyak 3.871 ekor.
Sebenarnya,
apakah penyebah harimau Sumatera ini kiang langka ? Menurut World Wildlife Fund
(WWF) Indonesia, ada tiga hal utama yang menyebabkan memburuknya kondisi
harimau Sumatera. Faktor penyebab itu antara lain, berkurangnya habitat,
perburuan, dan konflik dengan manusia. Sebagai upaya penanggulangan, maka perlu
adanya kerja sama dari berbagai pihak.
Bagi generasi
muda, kontribusi bisa dimulai dengan cara paling sederhana. Pertama, dengan
menyebarkan pesan mengenai terancamnya populasi harimau Sumatera lewat kicauan,
blog, atau status media sosial. Dengan begitu, makin banyak orang mengerti
kalau harimau Sumatera perlu disayangi dan dilindungi. Hal ini sangat penting
mengingat masih banyak pemburu nakal yang berkeliaran dan membantai kawanan
loreng yang cantik tersebut.
Selain itu,
jangan membeli dan memakai produk yang dibuat dari bagian tubuh harimau maupun
dari spesies lain yang terancam punah. Entah itu tas, pakaian, aksesori, sampai
kerajinan. Usahakan agar semua produk itu tidak dibuat dari satwa yang
dilindungi. Jangan lupa untuk menerapkan gaya hidup hijau. Tidak hanya
membantu, aksi ini juga menyehatkan tentunya. Kamu bisa bersepeda saat pergi ke
sekolah atau kampus, juga menjadi konsumen yang selektif dan bertanggung jawab
memilih produk turunan hasil hutan.
Penting juga
untuk membatasi pemakaian kertas berlebih guna mencegah lebih banyak pohon yang
ditebang. Hal tersebut sangat membantu menjaga habitat harimau Sumatera yang
setiap satu ekornya membutuhkan 20 sampai 250 km persegi hutan untuk tinggal.
Melindungi harimau sama dengan melindungi hutan. Melindungi hutan artinya sama
dengan melindungi bumi tempat tinggal manusia.


